Diagnosis dan Penatalaksanaan Karsinoma Sel Hati di Indonesia

 dr.Syifa Mustika, Sp.PD-KGEH, FINASIM

Divisi Gastroenterohepatologi

Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya – RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Latar Belakang dan Etiologi KSH
Karsinoma sel hati (KSH) masih menjadi penyebab keempat tersering kematian akibat kanker di dunia, yang menyebabkan sekitar 782.000 kematian serta diperkirakan terdapat 841.000 kasus baru di dunia.1 Di Asia Tenggara, insiden KSH mencapai 22,2 per 100.000 penduduk. Di Indonesia, insiden KSH mencapai 13,4 per 100.000 penduduk. Sekitar 70-90% pasien KSH memiliki etiologi dan faktor risiko berupa penyakit hati kronik dan sirosis hati, dimana yang terbanyak adalah virus hepatitis B, virus hepatitis C, penyakit hati alkoholik, serta non alcoholic steatohepatitis (NASH). KSH yang berkaitan dengan infeksi hepatitis B sebanyak 60% sedangkan 20% berkaitan dengan infeksi hepatitis C.2 Menurut data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah penderita hepatitis B mencapai 17,5 juta penduduk, dimana 20-30% diperkirakan akan mengalami progresivitas menjadi sirosis atau keganasan hati.3
Progresivitas penyakit hati lanjut, perlu untuk diidentifikasi agar klinisi dapat memprediksi terjadinya sirosis dan atau KSH. Identifikasi dan manajemen KSH membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu, seperti hepatologi, bedah digestif, radiologi intervensi, radiologi diagnostik, onkologi radiasi, dan patologi anatomi, yang tergabung dalam sebuah tim. Namun hingga kini penatalaksanaan yang ideal masih belum dapat dilakukan di Indonesia.3 Pengetahuan tentang KSH termasuk etiologi, faktor risiko, penegakan diagnosis hingga tatalaksananya perlu diketahui oleh klinisi agar dapat menentukan langkah yang tepat dalam menangani KSH.

Penegakan Diagnosis
Kriteria diagnosis KSH didasarkan pada tiga faktor yaitu latar belakang penyakit hati kronik, penanda tumor serta pemeriksaan radiologi.3 Adapun uraiannya tercantum dalam tabel 1.

Terlihat bahwa modalitas diagnostik utama untuk KSH adalah pemeriksaan radiologi. Artinya biopsi hati tidak perlu dilakukan bila telah ditemukan gambaran radiologi yang khas untuk hepatoma. Diagnosis dapat langsung ditegakkan berdasarkan kombinasi hasil pemeriksaan seperti tertulis di Tabel 1.
Diagnosis patologi pada kecurigaan KSH direkomendasikan untuk semua nodul yang terjadi pada kondisi non sirotik maupun sirotik yang memberikan gambaran pencitraan atipikal atau inkonklusif melalui pemeriksaan biopsi. Biopsi nodul dilakukan dengan dua metode yaitu fine needle aspiration (FNA) atau biopsi core. Risiko perdarahan pada biopsi FNA lebih kecil dibanding pada biopsi core. Spesimen yang didapatkan pada biopsi core berupa jaringan (histopatologi), sedangkan pada metode FNA merupakan sel-sel yang terlepas (sitologi). FNA memiliki keterbatasan dalam menilai arsitektur jaringan dan gambaran transformasi antara jaringan non tumor dan tumor serta keterbatasan material untuk pemeriksaan lanjutan. Kombinasi pemeriksaan sitologi (FNA) dan biopsi core sangat dianjurkan dalam menegakkan diagnosis patologi.3

Penilaian Stadium KSH
Sistem pembagian stadium KSH yang ideal adalah sistem yang mengikutsertakan penilaian ekstensi tumor serta derajat fungsi hati. Sistem yang mengakomodasi hal ini adalah sistem Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC). Komponen yang dinilai adalah ekstensi tumor, gejala konstitusional atau performance status, serta derajat fungsi hati. Berdasarkan konsensus nasional penatalaksanaan KSH di Indonesia, pembagian stadium KSH didasarkan pada staging BCLC, sedangkan untuk terapi tidak mengadopsi sistem ini karena KSH bersifat heterogen.3

Tatalaksana
Tatalaksana KSH didasarkan pada derajat fungsi hati, invasi vaskular, penyebaran ekstrahepatik, serta jumlah dan ukuran nodul.3 Algoritma tatalaksana tercantum pada gambar 2.

Reseksi hati, transplantasi hati, dan ablasi lokal termasuk ke dalam terapi yang bersifat kuratif. Angka kesintasan hidup dalam 5-tahun pada pasien KSH yang menjalani terapi kuratif sebesar 70%. Adapun terapi lainnya termasuk ke dalam terapi yang bersifat paliatif yang hanya bertujuan untuk memperpanjang angka kesintasan hidup namun tidak menyembuhkan.4
Pemilihan terapi tidak kaku tetapi harus mempertimbangkan kondisi individu. Salah satu pertimbangan yang umum digunakan adalah fungsi hati. Pada pasien KSH dengan fungsi hati yang sangat menurun, maka terapi kuratif tidak lagi direkomendasikan.4 Pasien KSH stadium awal akan tetapi disertai dengan hipertensi porta, maka tidak dianjurkan untuk dilakukan reseksi hati. Hal ini dikarenakan angka mortalitas dalam 30 hari dan 90 hari yang tinggi.5 Tindakan RFA juga tidak disarankan pada pasien KSH yang memiliki kontraindikasi absolut seperti gangguan status mental, infeksi aktif, dekompensasi hati, dan tumor yang berbatasan dengan duktus hepatikus utama. Jumlah tumor > 4, ukuran tumor > 5 cm, koagulopati, dan penyakit jantung paru yang berat termasuk ke dalam kontraindikasi relatif dari tindakan ablasi termal ini.6
Salah satu tindakan paliatif yang paling sering dilakukan adalah TACE. Walaupun tindakan TACE bersifat paliatif dan tidak menyembuhkan, bukan berarti seluruh pasien KSH dapat dilakukan TACE. Beberapa kontraindikasi absolut dari tindakan TACE antara lain : sirosis dekompensata (CP > 8), trombus vena porta, tumor berukuran besar yang mengenai kedua lobus hati, trombosis vena porta malignan, fistula arteriovena, dan gangguan fungsi ginjal. Perlu kewaspadaan pada pasien KSH dengan ukuran tumor > 10 cm yang direkomendasikan untuk TACE.7,8
Untuk mencapai respons terapi yang baik, maka KSH harus ditemukan pada stadium dini. Konsensus saat ini telah merekomendasikan untuk dilakukan skrining berkala (USG dan AFP) setiap 6 bulan pada kelompok risiko tinggi untuk menemukan tumor KSH pada stadium dini.9

DAFTAR PUSTAKA

1. Bray F, Ferlay J, Soerjomataram I, Siegel RL, Torre LA, Jemal A. Global cancer statistics 2018: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 36 cancers in 185 countries. CA Cancer J Clin. 2018;68:394-424.
2. Omata M, Cheng AL, Kokudo N, Kudo M, Lee JM, Jia J, Tateishi R, Han KH, Chawla YK, Shiina S, Jafri W, Payawal DA, Ohki T, Ogasawara S, Chen PJ, Lesmana CRA, Lesmana LA, Gani RA, Obi S, Dokmeci AK, Sarin SK. Asia-Pacific clinical practice guidelines on the management of hepatocellular carcinoma: a 2017 update. Hepatol Int. 2017;11(4):317-370.
3. Hasan I, Loho IM, editor. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Karsinoma Sel Hati. Indonesia: Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia: 2017.
4. Mokdad AA, Singal AG, Yopp AC. Treatment of liver cancer. JAMA. 2016;315(1):100.
5. Zhong JH, Torzilli G, Xing H, Li C, Han J, Liang L, et al. Controversies and evidence of hepatic resection for hepatocellular carcinoma. BBA Clin. 2016;6:125-30.
6. Facciorusso A, Serviddio G, Muscatiello N. Local ablative treatments for hepatocellular carcinoma: an updated review. World J Gastrointest Pharmacol Ther. 2016;7(4):477-89.
7. Sieghart W, Hucke F, Peck-Radosavljevic M. Transarterial chemoembolization: modalities, indication, and patient selection. J Hepatol. 2015;62:1187-95.
8. Piscaglia F, Ogasawara S. Patient selection for transarterial chemoembolization in hepatocellular carcinoma: importance of benefit/risk assessment. Liver Cancer. 2018;7:104-19.
9. Fitzmorris P, Singal AK. Surveillance and diagnosis of hepatocellular carcinoma. Gastroenterol Hepatol. 2015;11(1):38-46.

This quiz is for logged in users only.